KONSEP DASAR MEDIA DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan Islam merupakan proses mendidik yang di
dalamnya terjadi interaksi antara guru dan murid yang membahas tentang
materi-materi keislaman. Proses belajar-mengajar merupakan suatu kegiatan
melaksanakan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan, dengan visi agar dapat
mempengaruhi siswa mencapai tujuan pendidikan Islam yang telah ditetapkan oleh
lembaganya.
Agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan, perlu
adanya alat atau media pendidikan yg berguna untuk membantu proses
pembelajaran. Adanya alat atau media bahkan dapat mempercepat proses
pembelajaran, karena memudahkan murid untuk tanggap terhadap pelajarannya,
karena tidak hanya mendengarkan guru berceramah, murid juga melihat langsung dengan
panca indera melalui alat atau media pembelajaran tersebut.
Tidak hanya alat atau media pendidikan saja,
lingkungan juga berperan dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan islam. Lingkungan atau alam sekitar punya peranan penting dalam
pendidikan Islam. Karena lingkungan sangat mempengaruhi dalam pembentukan jati
diri serta pencapaian keinginan-keinginan individu dalam kehidupan. Oleh karena
itu, dalam makalah ini saya akan membahas tentang konsep dasar media dan
lingkungan pendidikan Islam.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana konsep media pendidikan Islam?
2.
Apa hakikat alat-alat atau media pendidikan?
3.
Bagaimana lingkungan dalam pendidikan Islam?
C. TUJUAN
1.
Mengetahui konsep media pendidikan Islam.
2.
Mengetahui alat-alat atau media pendidikan.
3.
Mengetahui lingkungan dalam pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP MEDIA PENDIDIKAN ISLAM
1. Pengertian Media Pendidikan
Kata media berasal dari bahasa Latin, merupakan bentuk
jamak dari medium yang secara harfiyah berarti perantara atau pengantar. Wilbur
Schram (1997) mendefinisikan media sebagai teknologi informasi yang dapat
digunakan dalam pengajaran. Jadi, media pengajaran tersebut merupakan
pengembangan yang dilakukan oleh guru. R. Rahardjo (1984) merumuskan bahwa
media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumbernya akan diteruskan kepada
sasaran pesan tersebut, dan materi yang ingin disampaikan merupakan pesan
pengajaran, dan tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.
Bila dalam hal tertentu suatu media tidak dapat
dijalankan fungsinya sebagai penyalur pesan yang diharapkan maka ia tidak
efektif atau tidak mampu mengkomunikasikan isi pesan yang ingin disampaikan
oleh sumber kepada sasaran yang igin dicapai. Oleh karena itu dalam mendesain
media untuk sebuah pesan, harus diperhatikan karakteristik dari penerima pesan
(umur, latar belaakang budaya, pendidikan, kondisi fisik, dan sebagainya) dan
kondisi belajar, khusunya faktor-faktor yang dapat merangsang timbulnya aktivitas
belajar-mengajar.
Media yang dirancang dengan baik dalam batas tertentu
dapat merangsang timbulnya semacam “dialog internal” dalam diri siswa yang
sedang belajar. Dengan kata lain terjadi komunikasi anatara siswa dengan media
atau secara tidak langsung antara siswa dengan sumber pesan (guru). Media
dikatakan berhasil membawa pesan, bila kemudian terjadi perubahan tingkah laku
atau sikap belajar pada diri siswa.[1]
Alat atau media pendidikan bukan suatu resep, yang
sewaktu-waktu dapat digunakan secara tepat guna dan mantap. Alat atau media
pendidikan merupakan sesuatu yang harus dipilih, sesuai dengan tujuan
pendidikan. Yang jelas alat atau meida pendidikan tidak tebatas pada benda-benda yang bersifat konkret saja,
tetapi juga berupa nasihat, tuntunan, bimbingan, contoh, hukuman, ancaman, dan
sebagainya. Selain itu alat atau media pendidikan dapat juga berupa situasi
tertentu.
Alat atau media pendidikan dapat saja berubah, tergantung
dari apakah dengan alat atau media tersebut tujuan pendidikan akan dapat dicapai.
Lebih dari itu alat pendidikan pun tergantung pada siapa yang menggunakannya.
Karena itu alat pendidikan menyangkut: (1) siapa yang menggunakannya; (2) untuk
tujuan apa alat itu digunakan; (3) alat apa yang cocok yang tersedia; (4)
kepada siapa alat itu diperuntukkan; (5) dalam situasi mana; dan (6) dan
serasikah alat tersebut dengan lingkungan alam sekitar, kelamin, bakat, usia,
dan tingkat pertimbangan anak didik.
Pendidikan Islam, bagaimanapun merujuk kepada Nabi
sebagai pendidik agung. Cerminan dari pendidikan Islam bersumber dari tokoh
ini, sebab beliau telah mendapat pendidikan yang paling baik yang pernah
diperoleh manusia. Pertama-tama dalam mendidik, Rasul menggunakan pergaulan
sebagai alat pendidikan. Selanjutnya alat pendididkan lain yang bisa beliau
gunakan adalah teladan dalam berbuat, berkata-kata dan bersikap.
Dengan demikian secara garis besarnya, alat atau media pendidikan yang
utama dalam pendidikan Islam adalah teladan, persahabatan, nasihat, dan
peringatan. Alat-alat tersebut digunakan sesuai dengan kondisi dan situasi
masing-masing. Alat-alat pendidikan tersebut, semasa hayat Rasul telah dapat
digunakan secara tepat sesuai dengan tujuan pendidikan untuk menjadikan manusia
agar bertauhid.[2]
2. Landasan Teoritis Penggunaan Media Pendidikan
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan,
perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara
pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut
Bruner (1966) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung
(enactive), pengalaman
piktorial/gambar (iconic), dan
pengalaman abstrak (symbolic).
Pengalaman langsung adalah mengerjakan, misalnya arti kata ‘simpul’ dipahami
dengan langsung membuat ‘simpul’. Pada tingkatan kedua yang diberi label iconic (artinya gambar atau image), kata
‘simpul’ dipelajari dari gambar , lukisan, foto, atau film. Meskipun siswa
belum pernah mengikat tali untuk membuat ‘simpul’ mereka dapat mempelajari dan
memahaminya dari gambar, lukisan, foto, atau film. Selanjutnya, pada tingkat
simbol, siswa membaca (atau mendengar) kata ‘simpul’ dan mencoba mencocokkannya
dengan ‘simpul’ pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya
membuat ‘simpul’. Ketiga tingkat pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya
memperoleh ‘pengalaman’ (pengetahuan,
keterampilan, atau sikap) yang baru.
Levie & Levie (1975) yang membaca kembali hasil-hasil
penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau
visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar
yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat , mengenali, mengingat
kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Di lain pihak, Stimulus
verbal memberi hasil belajar yang lebih apabila pembelajaran itu melibatkan
ingatan yang berurut-urutan (sekuensial). Hal ini merupakan salah satu bukti
dukungan atas konsep dual coding
hypotesis (hipotesis koding ganda) dari Paivo(1971). Konsep itu mengtakan
bahwa ada dua sistem ingatan manusia, satu untuk mengolah simbol-simbol verbal
kemudian menyimpannya dalam bentuk proposisi image, dan yang lainnya untuk
mengolah image nonverbal yang kemudian disimpan dalam bentuk proposisi verbal.
Belajar dengan menggunakan indera ganda pandang dan
dengar, akan memberikan keuntungan bagi siswa. Siswa akan belajar lebih banyak
daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus pandang atau
hanya dengan stimulus dengar. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari
pengalaman langsung (kongkret), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan
seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal
(abstrak).
Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan
paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman
itu, oleh karena ia melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan,
penciuman, dan peraba.
Tingkat keabstrakan pesan akan semakin tinggi ketika
pesan itu dituangkan kedalam lambang-lambang seperti bagan, grafik, atau kata.
Jika pesan terkandung dalam lambang-lambang seperti itu, indera yang dilibatkan
untuk menafsirkannya semakin terbatas, yakni indera penglihatan atau indera
pendengaran. Meskipun tingkat partisipasi fisik berkurang, keterlibatan
imajinatif semakin bertambah dan berkembang. Sesungguhnya, pengalaman kongkret
dan pengalaman abstrak dialami silih berganti; hasil belajar dari pengalaman
langsung mengubah dan memperluas jangkauan abstraksi seseorang, dan sebaliknya,
kemampuan interpretasi lambang kata membantu seseorang untuk memahami
pengalaman yang didalamnya ia terlibat langsung.[3]
3. Tujuan Media Pendidikan
Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa dilihat dari
fungsinya, alat-alat atau media pendidikan terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1)
Sebagai perlengkapan. Keberadaan alat ini sangat mutlak. Artinya, tapa
perlengkapan ini pun, tujuan masih bisa tercapai.
2)
Sebagai pembantu mempermudah usaha tujuan. Ditinjau dari pandangan yang
lebih dinamis, alat merupakan pembantu untuk mempermudah terlaksananya proses
pendidikan dalam rangka mencapai tujuannya.
3)
Sebagai tujuan. Alat-alat berfungsi saling membantu. Dengan perkataan lain,
alat-alat mempunyai hubungan hirarkis: suatu alat berfungsi sebagai alat dari
alat-alat yang lain.[4]
4. Fungsi Media Pendidikan
Pada mulanya media hanya berfungsi sebagai alat bantu
yang memperlancar dan mempertinggi proses belajar mengajar. Alat bantu tersebut
dapat memberikan pengalaman yang mendorong motivasi belajar, memperjelas dan
mempermudah konsep yang abstrak, menyederhanakan teori yang kompleks, dan
mempertinggi daya serap atau retensi belajar. Yang demikian ini memiliki dua
alasan utama, yaitu berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses
belajar mengajar dan berkenaan dengan taraf berpikir siswa.
Sudjana dan Riva’i (1991) menjelaskan bahwa media
pengajaran dalam proses belajar siswa memiliki beberapa manfaat antara lain:
a)
Pengajaran akan lebih menarik siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi
belajar.
b)
Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, dapat lebih dipahami oleh
siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pelajaran dengan lebih baik.
c)
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata berbentuk
komunikasi verbal melalui lisan guru.
d)
Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, karena siswa tidak sekedar
mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melakukan dan
mendemosntrasikan bahan-bahan pelajaran yang sedang dihadapi.
Taraf berpikir
manusia mengikuti tahap perkembangan yang bermula dari berpikir konkret ke
berpikir abstrak, juga bermula dari berpikir sederhana ke berpikir kompleks.
Dalam hal ini, R. Rahardjo (1984) menjelaskan bahwa media pengajaran mempunyai
nilai-nilai praktis berupa kemampuan atau keterampilan untuk:
a.
Membuat konkret konsep yang abstrak.
b.
Membaawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan
belajar, seperti binatang-binatang buas dan lain sebagainya.
c.
Menampilkan obyek yang terlalu besar.
d.
Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.
e.
Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungaannya.
f.
Membangkitkan motivasi belajar.
Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, perencanaan
program media harus dilakanakan secara sistematik berdasarkan kebutuhan dan
karakteristik siswa, yang diarahkan kepada perubahan tingkah laku dan sikap
siswa sesuai tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain, fungsi media secara
umum adalah untuk mengatasi hambatan dalam berkomunikasi, keterbatasan fisik
dalam kelas, sikap pasif anak didik serta mempersatukan pengamatan anak.[5]
B. HAKIKAT ALAT-ALAT PENDIDIKAN
Alat-alat artinya perangkat
atau media yang digunakan dalam melaksanakan sesuatu. Jika dimakssudkan dengan
alat-alat pendidikan, berarti media yang dimanfaatkan untuk pendidikan. Secara
umum, alat-alat pendidikan bukn hanya perangkat dalam bentuk benda, tetapi ada
yang sifatnya abstrak, misalnya metode pendidikan, pendekatan pendidikan,
teknik dan strategi pendidikan, dan pengelolaan kelas.
Beberapa alat atau media
pendidikan yang sangat penting dalam pendidikan adalah:
1.
Pendidik, merupakan alat pendidikan karena tanpa pendidik, pendidikan tidak
akan berjalan dengan baik;
2.
Lembaga pendidikan, tempat untuk dilaksanakannya pendidikan formal atau
informal;
3.
Anak didik, sarana pendidikan yang menjadi objek para pendidik sekaligus
pendidikan itu sendiri;
4.
Sarana dan prasarana pendidikan, yang membantu lancarnya pelaksanaan
pendidikan, terutama dalam proses pembelajaran;
5.
Perpustakaan, yakni buku-buku yang memberikan informasi ilmu pengetahuan
kepada para pendidik dan anak didik;
6.
Kecakapan atau kompetensi pendidik untuk memberikan pengajaran yang
profesional dan sesuai dengan kepabilitasnya;
7.
Metodologi pendidikan dan pendekatan sistem pengajaran yang digunakan;
8.
Manejamen pendidikan yang mengolah pelaksanaan pendidikan;
9.
Strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan belajar siswa;
10.
Evaluasi pendidikan dan evaluasi belajar.
Alat atau
media pendidikan merupakan faktor
pendidikan yang sengaja dibuat dan digunakan demi pencapaian tujuan tertentu.
Syaiful Bahri (2005) mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan alat-alat
pendidikan yang abstrak adalah yang berkaitan dengan masalah pembiasaan,
pengawasan, perintah, larangan, ganjaran, dan hukuman.
Pembiasaan artinya
anak didik dibiasakan melakukan suatu kegiatan yang bersifat belajar;
pengawasan yakni melakukan pengamatan yang seksama terhadap perkembangan anak
didik secara umum, dan secara khusus terhadap prestasi belajarnya; perintah,
artinya memberikan berbagai perintah yang sesuai dengan kemampuan anak didik
dengan mempertimbangkan usia anak didik dan mentalitasnya; larangan, memberikan
larangan kepada anak didik untuk tidak melakukan tindakan tertentu; ganjaran,
menawarkan hadiah bagi anak didik yang melaksanakan berbagai perintah dan
meninggalkan larangannya; hukuman, menetapkan sanksi hukum yang bersifat
mendidik bagi semua anak didik yang melanggar peraturan, baik dalam keluarga,
sekolah, atau lingkungan sekitarnya.
Alat-alat
pendidikan dimulai dari tujuan pendidikan itu dirumuskan. Apabila tujuan
pendidikan telah disepakati, semua alat pendidikan harus tersedia agar
memudahkan pelaksanaan semua unsur yang berkaitan dengan pencapaian tujuan yang
diharapkan.
Pendidik merupakan
subjek pendidikan dan alat pendidikan karena fungsi pendidikan bukan hanya
menyampaikan materi pelajaran, membimbing anak didik, dan membentuk watak serta
sikap anak didik dalam berprilaku. Pendidik juga merupakan alat peraga yang
hidup, karena perilaku pendidik atau akhlaknya akan dilihat dan ditiru oleh
anak didik.
Perpustakaan juga
sebagai alat pendidikan karena buku merupakan jantungnya ilmu. Apabila lembaga
pendidikan miskin kepustakaan, lembaga tersebut mati karena jantungnya berhenti
berdegup. Akan tetapi, perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang
menyediakan semua literatur yang sesuai dengan kebutuhan anak didiknya, baik
yang sifatnya klasik maupun modern.
Dalam perspektif
filsafat pendidikan Islam, alat bantu yang semakin modern adalah ajakan kepada
umat Islam agar semakin meningkatkan kemampuannya dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Jika umat Islam ketinggalan, bumi dan isinya bukan
diwariskan kepada umat Islam, melainkan kepada siapa pun manusia yang
profesional dalam mengelola bumi beserta seluruh isinya. Dengan demikian, lembaga
pendidikan Islam yang dianggap modern
adalah lembaga pendidikan yang memiliki alat bantu pendidikan yang modern dan
para pendidik yang cakap dalam mengajarkannya.[6]
C. LINGKUNGAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Menurut Morris L. Bigge (1982) bahwa
sifat dasar/bawaan dasar moral adalah baik, jelek atau netral, sedangkan
hubungan manusia dengan lingkungannya bersifat aktif, pasif atau interaktif.
Dari konsep ini berlanjut dengan lahirnya hukum nativisme, empirisme, dan
konvergensi.
1.
Teori (hukum) Empirisme
Teori empirisme mengatakan bahwa perkembangan dan
pembentukan manusia itu ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, termasuk
pendidikan. Sebagai pelopor empirisme ialah Jhon Locke (1632-1704) yang dikenal
dengan teori “tabularasa" atau empirisme. Menurut teori tabularasa, bahwa
tiap individu lahir sebagai kertas putih dan lingkungan itulah yang memberi
corak atau tulisan dalam kertas putih tersebut. Bagi Jhon Locke pengalaman yang
berasal dari lingkungan itulah yang menentukan pribadi seseorang.
2.
Teori (hukum) Nativisme
Teori ini dipelopori Athur Schopenhaeur (1788-1860)
mengatakan bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan oleh bawaan (kemampuan
dasar), bakat serta faktor endogen yang
bersifat kodrati. Namun menurut Azim, bahwa faktor bawaan dasar (al-warisah) memang punya pengaruh dalam
pembentukan kepribadian seseorang, namun bukan itu satu-satunya (Ali Abdul
Azim, 1973). Proses pembentukan dan perkembangan pribadi menurut aliran
empirisme ditentukan oleh faktor bawaan ini, yang tidak dapat diubah oleh pengaruh
alam sekitar atau pendidikan. Menurut Syam, bahwa aliran netivisme bersifat
pesimistik, karena menerima kepribadian sebagaimana adanya, tanpa kepercayaan
adanya nilai-nilai pendidikan untuk merubah kepribadian (Mohammad Noor Syam,
1986).
3.
Teori (hukum) Konvergensi
Teori konvergensi yang dipelopori oleh Willam Stern (1871-1938) ini,
mengatakan bahwa perkembangan manusia itu berlangsung atas pengarus dari
faktor-faktor bakat/kemampuan dasar (endogen/bawaan)
dan faktor alam sekitar (eksogen/ajar),
termasuk pendidikan dan sosia budaya. Karena dalam kenyataannya bahwa kemampuan
dasar yang baik saja, tanpa dibina oleh alam lingkungan terutama lingkungan
sosial termasuk pendidikan tidak akan mencetak pribadi yang ideal. Sebaliknya,
lingkungan yang baik terutama pendidikan, tetapi tidak didukung oleh kemampuan
dasar tadi, tidak akan menghasilkan kemampuan dasar yang ideal. Oleh karena itu
perkembangan pribadi sesungguhnya adalah hasil penggabungan antara faktor
endogen dan eksogen.
Lingkungan atau
alam sekitar punya peranan penting dalam pendidikan Islam. Karena lingkungan
merupakan elemen yang signifikan dalam pembentukan personalitas serta
pencapaian keinginan-keinginan individu dalam kerangka umum peradaban.
Lingkungan mencakup segala materiil dan stimuli didalam dan diluar diri
individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosio-kultural
serta tradisi. Dengan demikian, lingkungan dapat diartikan secara fisiologis,
psikologis, dan secara sosio-kultural.
Secara fisiologis,
lingkungan meliputi segala kondisi dan materi jasmani dalam tubuh seperti gizi,
vitamin, peredaran darah, pernafasan, kesehatan jasmani dan lain-lain. Secara
psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulaisi yang diterima oleh individu
mulai sejak dalam kandungan, kelahiran, sampai matinya. Secara sosio-kultural,
lingkungan mencakup segenap stimulasi interaksi, dan kondisi eksternal dalam
hubungannya dengan perlakuan atau pun karya orang lain.Pola hidup keluarga,
pendidikan, pergaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar,
pendidikan pengajaran, bimbingan, dan penyuluhan, budaya, dan tradisi. Selain
itu, ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, geografi, pendidikan, ekonomi, dan
politik, berkaitan dengan lingkungan sosial. Nilai-nilai mental dan spirutual
memainkan sebuah peran efektif yang berharga dalam lingkungan sosial melalui
pendidikan.
Al-Quran dan hadis
memperhatikan faktor lingkungan dalam pembentukan jati diri manusia. Pengaruh
lingkungan ini dapat dijumpai dalam Al-quran, seperti tanah yang subur akan
tumbuh subur tanaman-tanaman dengan seizin Allah. Dan sebaliknya tanah yang
tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana (QS al-A’raf [7]:1).
Pendidikan Islam
bersandar pada tiga nilai dasar asasi yang sangat berpengaruh dalam proses
pembentukan kepribadian manusia, yaitu perangai atau watak individu, seperti
kapasitas akal, hati, jiwa, fisik dan lain-lain; faktor lingkungan baik
lingkungan alam maupun sosial, terutama lingkungan sosial; dan faktor kehendak
bebas manusia merespon dirinya, dan lingkungannya. Tiga faktor tersebut berada
dalam hidayah Alllah. Kepribadian seseorang tidak lain merupakan hasil
interaksi antara watak kemanusiannya, kehendak dan kemauan bebasnya dan
faktor-faktor lingkungan sosialnya. [7]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Alat
atau media pendidikan merupakan sesuatu yang harus dipilih, sesuai dengan
tujuan pendidikan. Yang jelas alat atau meida pendidikan tidak tebatas pada benda-benda yang bersifat konkret saja,
tetapi juga berupa nasihat, tuntunan, bimbingan, contoh, hukuman, ancaman, dan
sebagainya.
alat
atau media pendidikan yang utama dalam pendidikan Islam adalah teladan,
persahabatan, nasihat, dan peringatan. Alat-alat tersebut digunakan sesuai
dengan kondisi dan situasi masing-masing. Alat-alat pendidikan tersebut, semasa
hayat Rasul telah dapat digunakan secara tepat sesuai dengan tujuan pendidikan
untuk menjadikan manusia agar bertauhid.
Tidak hanya alat
atau media pendidikan saja, Lingkungan atau alam sekitar juga punya peranan penting dalam pendidikan Islam.
Karena lingkungan merupakan elemen yang signifikan dalam pembentukan
personalitas serta pencapaian keinginan-keinginan individu dalam kerangka umum
peradaban. Lingkungan mencakup segala materiil didalam dan diluar diri
individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosio-kultural
serta tradisi.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2011 Media
Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Aly, Hery Noer. 1999. ILMU
PENDIDDIKAN ISLAM. Jakarta: PT Logos.
Basri, Hasan. 2009. Filsafat
Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Jalaluddin
dan Usman Said. 1999. FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Konsep dan
Perkembangan Pemikirinnya. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Maragustam.
2014. Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukan
Karakter Menghadapi Arus Global.
Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.
Thoha,
Chabib dan Abdul Mu’ti. 1998. PBM-PAI DI
SEKOLAH Eksistensi dan Proses
Belajar-Mengajar Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
[1] Chabib Thoha dan Abdul
Mu’ti, PBM-PAI DI SEKOLAH Eksistensi dan
Proses Belajar-Mengajar Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar Offset, 1998), hlm. 266-268.
[2] Jalaluddin dan Usman Said
, FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Konsep dan
Perkembangan Pemikirinnya, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 57-59.
[5] Chabib Thoha dan Abdul
Mu’ti, PBM-PAI DI SEKOLAH Eksistensi dan
Proses Belajar-Mengajar Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar Offset, 1998), hlm. 268-270.
[7] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukan
Karakter Menghadapi Arus Global, ( Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2014),
hlm.100-110.
Komentar
Posting Komentar