MAKNA
MALAIKAT
A.
Makhluk Ghoib
Semua
makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dapat dibagi menjadi dua macam: pertama,
yang ghoib (al-ghaib), dan yang kedua
yang nyata (as-syahadah). Yang
membedakan keduanya adalah bisa dan tidak bisanya dijangkau oleh pancaindera
manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh alah satu pancaindera
manusia digolongkan kepada al-ghoib.
Sebaliknya, yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan
kepada as-syahadah.Yang selanjutnya
akan kita bahas disini adalah al-ghoib
yang bersifa mutlak. Artinya segala sesuatu yang tidak terjangkau oleh
pancaindera siapa pun dan kapan pun. Sebab secara harfiah ada hal-hal yang
ghoib bagi orang tertentu tapi tidak ghoib bagi orang lain. Misalnya ada
beberapa benda yang bisa dijangkau oleh pancaindera orang-orang yang berada
disekitarnya, tetapi tidak bia dijangkau oleh orang yang jauh dari tempat itu.
Ghoib seperti ini disebut al-ghoib
an-nisbi.
Untuk
mengetahui dan mengimani wujud makhluk ghoib tersebut, seseorang dapat menempuh
dua cara. Pertama, melalui informasi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-akhbar). Kedua, melalui bukti-bukti
nyata yang menunjukkan makhluk goib itu ada (bil-atsar). Misalnya Malaikat, kita dapat mengetahui dan mengimani
wujud Malaikat, Pertama melalui akhbar yang disampaikan oleh Rasulullah SAW
baik berupa Al-Quran maupun Sunnah. Kedua, kita dapat mengetahui dan mengimani
wujud Malaikat lewat bukti-bukti nyata yang ada dalam alam semesta yang menunjukkan
bahwa Malaikat itu ada. Misalnya malaikat maut yang ditugaskan oleh Allah untuk
mencabut nyawa manusia, dapat kita buktikan wujudnya lewat bukti nyata
peristiwa kematian yangb dialami oleh manusia. Begitu juga Malaikat Jibril yang
bertugas menyampaikan wahyu kepada Rasul, diantaranya kepada Nabi Muhammad yang
dapat kita wujudkan buktinya wujudnya dengan melihat bukti nyata wahyu yang
diturunkan itu, yaitu kitab suci Al-Quran.[1]
B.
Pengertian Malaikat
Dalam
bahsa Arab, kata mala’ikah (مَلَائِكَةٌ) adalah bentukjamak dari kata malak (مَلَكْ).
Adapun huruf ta’ pada kata malaikat adalah untuk mengokohkan atau menguatkan
bahwa malaikat adalah kelompok atau banyak.[2]
Secara istilah Malaikat adalah makhlus ghaib yang diciptakan oleh Allah
daricahaya wujudnya samar, tidak bisa
dilihat oleh indra, tidak berwujud fisik, dan tak ada yang mengetahui
hakikatnya kecuali Allah. Malaikat suci dari syahwat kehewanan, bebas dari
anagn-angan jiwa dan bersih dari dosa dan kesalahan. Mereka tidak seperti
manusia yang dapat makan, minum, tidur, dan bersifat kelaki-lakian atau
perempuan. Mereka adalah makhluk lain yang tegak sendiri dan mandiri dengan
substansinya. Mereka mempunyai kemampuan menyerupai manusia dan yang lainnya
seperti bentuk-bentuk yang dapat diindra.[3]
C. Penciptaan Malaikat
Malaikat diciptakan
oleh Allah dari cahaya sebagaimana Allah menciptakan Adam dari tanah liat dan
menjadikan jin dari api. Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW:
خلقت الملآئكت من نور
وخلق الجان من مارج من نار. وخلق ادم مما وصف لكم ( رواه البخاري)
“ Malaikat itu diciptakan dari cahaya,
jindiciptakan dari nyala api, dan Adam
diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua.” (HR. Muslim)
Malaikat
bertempat tinggal dilangit dan mereka turun karena membawa perintah Allah.
Ahmad dan Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bertanya kepada
Jibril: “ Apa yang menghalangimu berkunjung kepada kami lebh banyak dari pada
kunjungan yang engkau laksanakan?” Jibril menjawab sebagaimana ayat diturunkan:
“Kami tidak akan turun kecuali perintah tuhanmu. Apa-apa yang ada didepan kami,
apa-apa yang ada dibelakang kami, dan apa-apa yang ada diantara keduanya hanya
milik-Nya. Tuhanmu tidakakan lupa.” (QS. Maryam: 64)
Malaikat
diciptakan lebih dahulu daripada manusia diiptakan. Allah memberi informasi
kepada mereka bahwa Allah akan menciptakan manusia sebagai kholifah di muka
bumi. Allah berfirman: “Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat:
‘Sesungguhnya akan Aku jadikan seorang kholifah di muka bumi.’ Mereka menjawab:
‘Apakah pantas Engkau jadikan di atas bumi orang yang akan berbuat bencana dan
menumpahkan darah. Kami selalu bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu.’
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah lebih mengetahui apa-apa yang tidakkalian
ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30).[4]
D.
Wujud
Malaikat
Sebagai makhluk ghaib wujud malaikat
tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dan dirasakan oleh manusia atau dengan
kata lain tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, kecuali jika Malaikat
menampilkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Ada beberapa ayat
dan hadis yang menyebutkan peristiwa Malaikat menjelma menjadi manusia.
Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa
nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki dan
perempuan, dan tidak berkeluarga. Hidup dalam alam yang berbeda dengan
kehidupan alam semesta yang kita saksikan ini. Dan yang mengetahui wujud
Malaikat hanyalah Allah SWT.[5]
Kita telah mengetahui bahwa ketaatan
Malaikat merupakan kebiasaan (karaker). Meninggalkan maksiat tidak menjadi
beban bagi mereka dalam proses perjuangan karena mereka tidak mempunyai
syahwat. Dengan demikian, dimana letak keutamaan mereka dalam ketataatan dan
meninggalkan maksiat sedang ketenuan yang mereka kerjakan terjadi secara
terpaksa sebagaimana hati yang berdenyut, darah yang mengalir, dan paru-paru
yang bernafas ketika manusia memerangi nafsu, menundukkan syahwat, mmerangi
syetan, melakanakan taat, dan beruaha berjuang untuk menyempurnakan dirinya dan
menjaga roh nya dengan sikap cinta dan takut.
E.
Sifat
dan Kebiasaan Malaikat
Malaikat adalah hamba-hamba Allah SWT
yang mulia:
مُكْرَمُونَ عِبَادٌ بَلْ سُبْحَانَهُ وَلَدًا الرَّحْمَٰنُ اتَّخَذَ وَقَالُوا
“Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil
(mempunyai) anak.” Mahasuci Allah. Sebenarnya (Malaikat-Malaikat itu) adalah
hamba-hamba yang dimuliakan.” (QS. Al-Anbiya’: 26).
Malaikat selalu
memperhambakann diri kepada Allah dan patuh akan segala perintah-Nya, serta
tidak pernah berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah SWT.[6]
Kebiasaan malaikat yaitu selalu taat kepada Allah dengan
sempurna, tunduk kepada kekuasaan-Nya, serta melaksanakan segala perintah-Nya.
Mereka mengatur alam sesuai dengan kehendak Allah. Allah mengatur kerajaan-Nya
melalui perantara mereka (malaikat). Mereka tidak tidak berkehendak apapun
kecuali atas perintah Allah. Allah berfirman “Mereka takut kepada Allah
melebihi dirinya. Mereka mengerjakan segala apapun yang diperintahkan” (QS
An-Nahl : 50). “Bahkan mereka hamba-hambaAllah yang dimuliakan, Mereka tidak
bisa mendahuui-Nya dengan perkataan. Mereka selau melaksanakan perintahNya.
Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dibelakangnya. Mereka tidak dapat
memberi pertolongan kecuali kepaa orang-orang yang diridhoi Allah. Mereka
bergetar karena takut kepadaNya (QS
at-tahrim : 6).
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jika
Allah memutuskan perkara dilangit, maka mendepak dengan sayapnya dengan sikap
rendah diri. Suaranya seperti deringan diatas batu besar. Jika rasa takut telah
lenyap dari hati mereka, mereka bertanya : “Apa yang telah difirmankan Tuhan
kalian?” Dijawab : “Allah Maha Tinggi dan Maha Besar”.[7]
F. Karakteristik Malaikat
Malaikat berbeda dalam ciptaannya sebagaimana mereka berbeda
dalam kedudukan dan derajat. Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Allah
berfirman: “Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi dan
menjadikan Malaikat sebagai utusan yang mempunyai sayap dua-dua, tiga-tiga, dan
empat-empat. Allah menambah kejadian yang dikehendaki. Esungguhnya Allah maha
kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir: 21)
Artinya, Allah menjadikan Malaikat yang mempunyai sayap.
Sebagian mereka ada yang mempunyai sayap. Sebagian mereka ada yang mempunyai
dua sayap, tiga sayap, empat sayap, dan lebih dari itu. Ini merupakan realitas
perbedaan kedudukan dan derajat di sisi Allah dan kekuatan berpindah-pindah.
Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah pernah melihat Jibril.
Dia mempunyai enam ratus sayap.
Banyaknya sayap menunjjukkan kemampuan dalam kecepatan
melaksanakan perintah-perintah Allah dan menyampaikan risalah-Nya. Allah
berfirman: “Kami (Malaikat) mempunyai kedudukan tertentu. Kami bersaf-saf dan
kami selalu bertasbih.” (QS.As-Shaffat: 164-166).
Menurut Ibnu Katsir, Malaikat mempunyai kedudukan khusus di
langit dan mempunyai derajat ibadah yang tidakbisa dilampaui. Ibnu ‘asakir
berkata dalam terjemahannya, karya Muhammad bin Khalid yang dihubungkan dan
disandarkan kepada Abdurrahman bin ‘Ila bin sa’ad, dari ayahnya yang termasuk
orang yang membai’at Rasulullah pada aat penaklukkan Mekkah bahwa Rasulullah
bersabda: “Langit telah bersuara dan dinyatakan kepadanya agar bersuara. Di
langit tidak ada tempat kaki (pijakan) kecuali di atasnya terdapat malaikat
yang ruku’ atau sujud.” Kemudian beliau membaca ayat yang artinya: “Kami
mempunyai kedudukan tertentu. Kami bersaf-saf dan kami selalu bertasbih.” (QS.
As-Shaffat:164-166). [8]
DAFTAR PUSTAKA
Sabiq, Sayid. Akidah Islam.
Surabaya: Al Ikhlas, 1996.
Ilyas, Yunahar. Kuliah
Aqidah Islam. Yogyakarta: LPPI, 1992.
Zuhri. Pengantar Studi
Tauhid. Fez-Mohammadia: Suka press, 2013.
[1] Yunahar Ilyas, kuliah aqidah islam, (Yogyakarta: LPPI,
1992), hlm 77-78
[2] Zuhri, pengantar studi tauhid, (suka press,
2013), hlm 115.
[3] Sayid sabiq, akidah islam, (Surabaya: Al Ikhlas,
1996) hlm 121.
[6] Yunahar Ilyas, kuliah aqidah islam, (Yogyakarta: LPPI,
1992), hlm 80-81.
[7] Sayid sabiq, akidah islam, (Surabaya: Al Ikhlas,
1996) hlm 124.
[8] Sayid sabiq, akidah islam, (Surabaya: Al Ikhlas,
1996) hlm 125.
Komentar
Posting Komentar