PENDEKATAN ILMIAH MODEL KRITISISME - IMMANUEL KANT
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Filsafat merupakan usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan atas suatu
hal, artinya filsafat berusaha mengombinasikan bermacam-macam hasil dari ilmu
pengetahuan dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang
konsisten. Filsafat juga merupakan suatu proses
kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang membahas pemikiran manusia secara kritis. Banyak beberapa tokoh filsuf terkenal dengan pemikiran masing-masing namun filsuf yang
terkenal dengan pemikiran kritisme ini adalah Immanuel Kant.
Immanuel Kant telah melakukan usaha untuk melakukan penyelesaian tentang dua pandangan yang
memiliki keyakinan yang berbeda dan keduanya saling bertentangan, yaitu antara pandangan rasionalisme dan pandangan empirisme.
Oleh karena itu untuk lebih jelasnya saya akan membahas tentang pemikiran ilmiah model kritisme
Immanuel Kant dalam makalah ini.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa yang
dimaksud dengan kritisisme?
2.
Bagaimana biografi
Immanuel Kant yang merupakan filsuf
(penggagas kritisisme)?
3.
Bagaimana kritisisme Immanuel kant?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui tentang kritisisme.
2.
Mengetahui biografi
Immanuel Kant
3.
Mengetahui tentang kritisisme Immanuel Kant
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN KRITISISME
Kritisisme adalah sebuah teori ilmu pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat, yaitu rasionalisme dan empirisme yang keduanya memiliki pandangan yang berbeda menjadi suatu hubungan yang
seimbang dan keduanya tidak dapat dipisahkan.[1] Rasionalisme mengatakan bahwa akal adalah
alat terpenting dalam memperoleh dan mengetes pengetahuan (pengetahuan
diperoleh dengan cara berpikir), sedangkan empirisme berpendirian sebaliknya
bahwa pengalaman adalah sumber dalam memperoleh pengetahuan.[2]
Menurut Kant pengetahuan merupakan hasil akhir
yang diperoleh dengan adanya kerja sama antara dua komponen, yaitu disatu pihak
berupa pengalaman-pengalaman inderawi dan di lain pihak cara mengolah
kesan-kesan yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga terdapat suatu hubungan
antara sebab dan akibatnya.[3]
Pengetahuan yang mutlak memang tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang
melalui indera. Akan tetapi, bila pengetahuan itu datang dari luar melalui akal
murni yang tidak hanya bergantung pada pengalaman. Pengalaman itu tidak
menunjukkan hakikat objek yang dialami. Oleh sebab itu, pengalaman tidak dapat
menghasilkan kebenaran umum karena akal kita lah yang biasanya ingin memperoleh
kebenaran umum itu.[4]
B. BIOGRAFI IMMANUEL KANT
Kant adalah seorang filsuf besar yang terlahir di
Konigsbreg, Prusia, Jerman pada tahun 1724. Sejak kecil ia tidak pernah
meninggalkan desa kelahiranya kecuali hanya beberapa waktu singkat saja untuk
memberikan kuliah atau mengajar di desa
tetangganya. Profesor ini sangat doyan memberikan kuliah geografi dan etnologi.
Ia sebenarnya dari keluarga miskin , ibunya amat taat dan keras dalam agama.
Kant sendiri amat tekun dalam mengerjakan agama nya. Tatkala ia benar-benar
matang, ia ingin sekali mengetahui hal-hal mendasar, terutama tentang agamanya.
Pada tahun1755 Kant memulai karirnya sebagai dosen
swasta di Universitas Konigsberg. Kemudian ia meninggalkan kedudukan itu
setelah lima belas tahun. Dua kali lamarannya untuk menjadi guru besar ditolak.
Akhirnya pada tahun 1770 ia diangkat menjadi ptofesor logika dan metafisika.
Setelah beberapa tahun berpengalaman menjadi pengajar, ia menulis buku tentang
pendidikan. Sebagai guru ia cukup baik, karena itu para mahasiswanya
menyukainya.
Tidak ada orang pada waktu itu yang mengira ia
akan membuat kejutan yang hebat terhadap dunia pemikiran dengan mengeluarkan
buku yang berisi suatu sistem metafisika yang baru. Dia pun tidak bermaksut
membuat kejutan itu. Pada usia empat puluh dua tahun ia menyatakan bahwa ia merasa
beruntung karena menyenangi metafisika. Pada masa ini ia memang banyak berbicara
mengenai nagarai-ngarai metafisika yang dalam menakutkan, tentang metafisika
sebagai lautan yang gelap tanpa pantai dan tanpa cahaya sedikitpun, dan ia
menaburi uraiannya dengan ulasan-ulasan filosofis yang mendalam. Ia bahkan
berani menyerang metafisikawan.
Kehidupan Kant, menurut salah seorang penulis
biografi, berlangsung menurut aturan
yang tegas: bangun,minum kopi, menulis, memberi kuliah, makan, jalan-jalan,
masing-masing mempunyai waktunya sendiri. Lalu Kant munculdari pintu rumahnya,
berjalan menuju jalan kecil dibawah pepohonan yang rindang. Maka tahulah
tetangganya bahwa itu berarti jam setengah empat. Ia berjalan naik-turun
sepanjang musim.
Secara fisik ia lelah, memerlukan perawatan
dokter, tetapi ia hidupsampai usia delapan puluh tahun. Ia memang filosof
tulen. Ia berpikir lebih dulu sebelum berbuat. Barangkali karena inilah maka ia
membujang seumur hidup. Dua kali ia mencoba mendekati perempuan. Pertama ia
merenungkannya terlalu lama. Karena tidak sabar menunggu, perempuan itu kawin
dengan pemuda lain yang berani. Yang kedua dengan perempuan yang juga tidak
sabar menunggu Kant mengambil keputusan kawin atau tidak. Akhirnya perempuan
itu pindah dari kota Konigsberg. Mungkin berpikiran seperti Nietzsche yang
berpandangan bahwa kawin akan merintangi pencapaian kebenaran, atau seperti
Talleyrend yang berpendapat bahwa orang yang kawin akan melakukan apa saja
dengan duit. Dan Kant pada umur dua puluh tahun telah menyatakan bahwa dia
sudah menentapkan jalan yang pasti. Dia ingin belajar, dan tidak tidak satupun
yang dapat menghalanginya dalam mencapai tujuan itu.
Melalui berbagai kondisi ia terus menyelesaikan
karya besarnya selama lima belas tahun. Selesai tahun 1781 tatkala ia berumur
lima puluh tujuh tahun. Belum pernah ada orang yang matang selambat itu dan
juga belum pernah ada buku sehebat itu dalam mengguncangkan dunia pemikiran.
Buku pertama yang ditulisnya yaitu the
critique of pure reason ( pembahsan tentang akal murni).[5]
Dalam hidup Kant terdapat tiga periode. Yaitu:
1. Ia melaksanakan ilmu alam dan
filsafat alam menurut gaya Newton dan Wolf. Periode rasionalitis ini berlaku
sampai 1755.
2. Setelah karya Hume
diterjemahkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1756, ia sangat dipengaruhi oleh
pemikiran Hume. Ia berorientasi keptis tentang pengetahuan filosofis.
3. Sekitar tahun 1770 mulailah
periode ‘kritis.’ Ia mendapat penerangan besar, tentang nilai hukum-hukum
ilmiah, dengan konsekuensinya. Lalu ia mulai merencanakan buku mengenai hal
itu. Namun baru tahun 1781 buku kritik
der reinen Vernuft itu terbit. Kemudian dalam waktu singkat diterbitkan lah
kritik-kritik tentang kehendak, tentang penilaian estetis, dan tentang agama.[6]
C. KRITISISME IMMANUEL KANT
Sejarah pemikiran dan filsafat Barat kerap
menganggap Immanuel Kant sebagai puncak era pencerahan yang terjadi di Eropa
pada abad ke-18. Era pencerahan sendiri merupakan puncak gelombang pencerahan
besar revolusi (dalam bidang sains), renaisans
(seni dan filafat), dan reformasi
(agama) yang terjadi pada abad ke-15 dan ke-16. Salah satu sumber lagi yang
memberikan pengaruh sangat besar bagi perubahan di Eropa adalah ilmu
pengetahuan dan pemikiran filsafat yang datang dari dunia Islam.[7]
Dengan kritisisme, Immanuel Kant mencoba
mengembangkan suatu sintesis atas
dua pendekatan yang bertentangan. Kant menganggap rasionalisme dan empirisme
senantiasa berat sebelah dalam menilai akal dan pengalaman sebagai sumber
pengetahuan. Ia menganggap bahwa pengenalan manusia merupakan sintesis antara
unsur-unsur apriori dan unsur-unsur aposteriori. Kant tidak menentang adanya
akal murni, ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas. Akal murni
menghasilkan pengetahuan tanpa dasar inderawi. Pengetahuan inderawi tidak dapat
menjangkau hakikat objek, tidak sampai pada kebenaran umum. Adapun kebenaran
umum harus bebas dari pengalaman, artinya harus jelas dan pasti dengan
sendirinya. Oleh karena itu, pengenalan berpusat pada subjek, bukan pada objek.
Ada tiga tahap pengenalan, pertama yaitu, pengenalan pada taraf indera. Pengenalan taraf indera hanyalah
penampakan gejala. Oleh karena itu yang dilihat bukanlah bentuk yang
sesungguhnya dan hanya merupakan salinan/bayangan. Kedua, pengenalan pada taraf akal. Tugas akal mengatur data-data
dari inderawi, yaitu dengan mengemukakan putusan-putusan. Sebagaimana ketika
kita melihat sesuatu, maka sesuatu itu di transmisikan ke dalam akal,
selanjutnya akal bekerja menyusun kesan-kesan itu sehingga menjadi suatu gambar
yang dikuasai oleh bentuk ruang dan waktu. Ketiga, pengenalan pada taraf rasio. Tugas rasio adalah memberikan
argumen bagi putusan-putusan yang telah dibuat oleh akal. Akal menggabungkan
data-data inderawi dengan mengadakan putusan-putusan. Menurut Immanuel Kant dalam membentuk
argumen-argumen, akal dipandu oleh tiga ide transedental,
yaitu ide psikologis yang disebut jiwa, yakni ide yang menyatukan segala
gejalah lahiriah, yaitu ide dunia; dan ide tentang tuhan. Ketiganya memiliki
fungsi masing-masing, yaitu ”Ide jiwa”
menyatakan dan mendasari segala gejala bathiniah. “Ide dunia”, menyatakan segala gejala jasmaniah, sedangkan “Ide tuhan” mendasari segala gejala yang
ada, baik yang bathiniah maupun yang lahiriah.
Demikianlah menurut Immanuel Kant, yang menjadi
penggagas kritisme. Filsafat ini memulai perjalanannya dengan menyelidiki
batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu
kritisisme sangat berbeda dengan corak filsafat modern sebelumnya yang
mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Immanuel Kant mengutarakan teori
pengetahuan, etika, dan estetika. Gagasan tersebut didasarkan pada tiga
pertanyaan, yaitu (1) apa yang saya dapat ketahui? (2) apa yang harus saya
lakukan? (3) apa yang boleh saya harapkan?. Tiga pertanyaan tersebut tercirikan
pada tiga pandangan Kant, yaitu:
1.Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat
pada subjek dan bukan pada objek;
2.Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia
untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau
gejalanya atau fenomenanya saja;
3.Menegaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu
itu diperoleh atas perpaduan antara unsur apriori
yang berasal dari rasio serta brupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman
yang berupa materi.[8]
Melalui filsafatnya Kant dengan filafatnya
bermaksud memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan. Agar maksud itu
terlaksana, orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan
sifat epihak empirisme. Rasionalisme mengira telah menenmukan kunci bagi
pembukaan realitas pada diri subjeknya, lepas dari pengalaman. Adapun empirisme
mengira telah memperoleh pengetahuan dari pengalaman saja. Ternyata bahwa
empirisme, sekalipun dimulai dengan ajaran yang murni tentang pengalaman, tetap
melalui idealisme subjektif bermuara pada suatu skeptisme yang radikal. Nah,
Kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni.[9]
Menurut Hume, ada jurang yang lebar antara
kebenaran-kebenaran rasio murni dengan realitas dalam dirinya sendiri. Menurut
Kant, syarat dasar bagi segala ilmu pengetahuan adalah bersifat umum dan mutlak
dan memberi pengetahuan yang baru.
D.
KRITIK ATAS RASIO MURNI
Kritisme Kant dapat dianggap sebagai suatu usaha
rakasa untuk mendamaikan rasionalisme dengan empirisme. Menurut Kant, baik
rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah. Ia berusaha
menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan paduan antara sintesis
unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Dahulu para filsuf telah mencoba
memahami pengenalan dengan mengandaikan bahwa si subjek mengarahkan diri kepada
objek. Kant mengerti pengenalan dengan berpangkal dari anggapan bahwa objek
mengarahkan diri kepada subjek. Sebagaimana Copernicus menetapkan bahwa bumi
berputar sekitar matahari dan bukan sebaliknya, demikian pun Kant
memperlihatkan bahwa pengenalan berpusat pada subjekbukan objek.
E.
PADA TARAF INDRA
Unsur apriori memainkan peranan bentuk, dan unsur
aposteriori memainkan peranan materi. Menurut Kant unsur apriori itu sudah terdapat
pada indra. Ia berpendapat bahwa pengetahuan inderawi selalu ada dua bentuk
apriori, yaitu ruang dan waktu.
Pendirian tentang pengenalan inderawi ini
mempunyai implikasi yang penting. Memang ada suatu realitas, terlepas dari
subjek, Kant berkata: memang ada das Ding
an Sich (benda dalam dirinya; the
things it self). Tetapi das Ding an
Sich selalu tinggal suatu X yang tidak dikenal. Kita hanya mengenal
gejala-gejala yang selalu merupakan sintesa antara hal-hal yang datang dari
luar dengan bentuk ruang dan waktu.
F.
PADA TARAF AKAL BUDI
Kant membedakan akal budi (Verstand) dengan rasio (vernunft).
Tugas akal budi ialah menciptakan orde antara data-data inderawi. Dengan kata
lain, akalbudi menciptakan putusan-putusan. Pengenalan akal budi juga merupakan
sintesa antara bentuk dengan materi. Materi adalah data-data inderawi dan
bentuk adalah apriori yang terdapat pada akal budi.
G.
PADA TARAF RASIO
Tugas rasio ialah menarik kesimpulan dari
keputusan-keputusan. Dengan kata lain, rasio mengadakan argumentasi-argumentasi.
Kant memperlihatkan bahwa rasio membentuk argumentasi-argumentasi itu dengan
dipimpin oleh tiga ide: jiwa, dunia, dan Allah. Ketiga ide-ide tersebut
mengatur argumentasi-argumentasi kita tentang pengalaman, tetapi ketika ide
sendiri tidak termasuk pengalaman kita. Karena kategori akal budi hanya berlaku
untuk pengalaman, kategori-kategori itu tidak dapat diterapkan pada ide-ide.
H.
KRITIK ATAS RASIO PRAKTIS
Rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan, sehingga
rasio disebut rasio teoritis atau menurut istilah Kant sendiri rasio murni.
Akan tetapi, disamping rasio murni terdapat apa yang disebut rasio praktis,
yaitu rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan; atau dengan kata lain,
rasio yang memberi perintah kepada kehendak kita. Kant memperlihatkan bahwa
rasio praktis memberikan perintah yang mutlak yang disebutnya sebagai imperatif
kategori.
Kant beranggapan bahwa ada tiga hal yang harus
disadari sebaik-baiknya bahwa ketiga hal itu dibuktikan, hanya ditutut. Itulah
sebabnya Kant menyebutnya ketiga postulat dari raio praktis.Ketiga postulat
yang dimaksud itu ialah:
1.
Kebebasan kehendak;
2.
Immoalitas jiwa, dan;
3.
Adanya Allah.
Jadi, apa yang tiak dapat ditmui atas daar rasio
teoritis harus diandaikan atas dasar rasio praktis. Tetapi tentang kebebasan
kehendak, immoralitas jiwa dan adanya Allah kita semua tidak mempunyai
pengetahuan teoritis.[10]
I.
KRITIK ATAS DAYA PERTIMBANGAN
Kritik ketiga dari Kant atas rasionalisme dan
empirisme alah sebagaimana dalam karyanya critique
of judgment. Sebagai konsekuensi dari “ kritik atas rasio umum” dan “kritik
atas rasio praktis” ialah munculnya dua lapangan tersendiri, yaitu lapangan
keperluan mutlak di bidang alam dan lapangan kebebasan di bidang tingkah laku
manusia.
Kritisme Immanuel Kant sebenarnya telah memadukan dua
pendekatan dalam pencarian keberadaan sesuatu tentang kebenaran substansial
dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak
menentukan kebenaran, karena rasio tidak membuktikan. Demikin pula pengalaman
tidak dapat selalu dijadikan tolok ukur, karena tidak semua pengalaman
benar-benar nyata dan rasional, sebagaimana mimpi yang nyata, tetapi “tidak
real”, yang demikian sukar untuk dinyatakan sebagai kebenaran.
Dengan pemahaman tersebut, rasionalisme dan
empirismeharusnya bergabung agar melahirkan suatu pardigma baru bahwa kebenaran
empiris harus rasional sebagaimana kebenaran rasional harus empiris. Jika
demikian, kemungkinan lahir aliran baru, yakni rasionalisme empirisme.[11]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Filsafat kritisme Immanuel Kant ini telah
menggabungkan dua pendekatan yang saling bertentangan. Yaitu antara pendekatan
rasionalisme dan pendekatan empirisme menjadi satu kesatuan yang seimbang dan
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio
tidak mutlak dapat menemukan kebenaran, karena rasio tidak dapat membuktikan.
Demikian pula pengalaman, yang juga tidak dapat dijadikan tolok ukur. Karena
tidak semua pengalaman benar-benar nyata dan rasional. Dengan demikian, rasionalisme
dan empirisme harus bergabung untuk menemukan suatu kebenaran yang secara
realitas dapat dibuktikan. Adapun untuk menemukan suatu kebenaran maka yang
menjadi penentunya ialah berpusat pada subjek (pelaku/orang) bukan pada objek.
DAFTAR PUSTAKA
Muntasyir, Rizal. 2001. Filafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Tafsiri, Ahmad. 1997. Filsafat Umum. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Bakker, Anton. 1984. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Hakim, Atang Abdul. 2008. Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka
Setia.
Sholihin, 2007. Perkembangan Pemikiran Filsafat dari
KlasikHingga Modern. Bandung: CV Pustaka Setia.
Praja, Juhaya, S. 2003. Aliran-Aliran Filafat dan Etika. Bogor:
KENCANA.
Komentar
Posting Komentar